Kabupaten Biak Numfor khususnya kawasan pesisir Pulau Biak bagian timur dan Kepulauan Padaido memiliki luas terumbu karang reef flat sekitar 9252,1 ha2 dan deep reef 328,2 ha2 dengan sekitar 456 jenis terumbu karang dan 716 jenis ikan karang. Ironisnya, kondisi terumbu karang tersebut telah mengalami kerusakan yang umumnya disebabkan oleh pemanfaatan sumberdaya perikanan yang merusak (destructive fishing), yaitu penangkapan ikan yang menggunakan bahan peledak yang hingga saat ini masih marak. Penggunaan bahan peledak (blast fishing) akan merusak terumbu karang dan pada akhirnya akan mengurangi fungsinya sebagai fishing ground, nursery ground dan spawning ground maupun sebagai feeding ground serta mengurangi sumber mata pencaharian bahkan memutus rantai kehidupan generasi yang akan datang.
Selain itu, akibat kegagalan penggunaan blast fishing dapat mengakibatkan cacat bahkan kematian bagi pelaku. Bertolak dari hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan mengkaji secara konprehensif dan terpadu tentang model pengelolaan penanggulangan blast fishing di lokasi kajian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, mengidentifikasi potensi penggunaan blast fishing dan kemudian menyusun strategi penanggulangannya. Metode yang digunakan dalam kajian ini, antara lain: analisis Rapfish untuk mengidentifikasi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, dan Multi Criteria Analysis (MCA) untuk mengidentifikasi potensi penggunaan blast fishing, serta analisis SWOT untuk menyusun strategi penanggulangannya. Hasil dari analisis keberlanjutan didapatkan bahwa secara umum dimensi ekologi, teknologi dan sosial ekonomi kurang berlanjut, sementara dimensi kelembagaan cukup berlanjut. Atribut yang sensitif pada dimensi ekologi adalah eksploitasi karang yang tinggi, dimensi teknologi adalah pascapanen yang masih rendah, penggunaan metode destructive fishing. Dimensi sosial ekonomi adalah target pasar ikan blast fishing serta pada dimensi kelembagaan adalah pelaksanaan Monitoring, Controlling and Surveillance yang masih jarang dilakukan serta tingkat kepatuhan masyarakat yang rendah. Indeks Potensi Blast Fishing tertinggi untuk dimensi ekologi dan teknologi didapatkan di Pulau Auki, Pulau Wundi dan Kampung Soryar masing-masing sebesar 0.14. Sedangkan dimensi sosial ekonomi dan budaya tertinggi didapatkan di Pulau Nusi, Pulau Pulau Auki dan Pulau Wundi masing-masing sebesar 0.12 (kurang berpotensi) serta dimensi kelembagaan tertinggi di Pulau Auki, Pulau Wundi, Kampung Mokmer dan Kampung Soryar masing-masing sebesar 0.13 (kurang berpotensi). Strategi penanggulangan blast fishing, antara lain: peningkatan kapasitas masyarakat lokal dan pengakuan hak-hak ulayat dalam pengelolaan sumberdaya; sinkronisasi program serta peningkatan koordinasi antar stakeholders dalam setiap proses tahapan program; revitalisasi secara luas nilai-nilai kearifan lokal (sasien) pengelolaan sumberdaya, baik dalam kelompok masyarakat pemilik sumberdaya maupun masyarakat luar; peningkatan pelaksanaan kegiatan MCS yang berbasis masyarakat dan pasar, penyuluhan hukum lingkungan serta penegakan hukum; pengaturan kegiatan penangkapan terutama nelayan dari luar; peningkatan teknologi yang efektif, dan lebih ramah lingkungan serta pengolahan pasca panen; peningkatan infrastruktur yang terintegrasi; peningkatan pengetahuan lingkungan dan kampanye dan larangan tidak mengkonsumsi ikan hasil blast fishing. Kata kunci: pengelolaan berkelanjutan, ekosistem terumbu karang, mitigasi blast fishing, Kabupaten Biak Numfor.
Selain itu, akibat kegagalan penggunaan blast fishing dapat mengakibatkan cacat bahkan kematian bagi pelaku. Bertolak dari hal tersebut di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan mengkaji secara konprehensif dan terpadu tentang model pengelolaan penanggulangan blast fishing di lokasi kajian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, mengidentifikasi potensi penggunaan blast fishing dan kemudian menyusun strategi penanggulangannya. Metode yang digunakan dalam kajian ini, antara lain: analisis Rapfish untuk mengidentifikasi keberlanjutan pengelolaan terumbu karang, dan Multi Criteria Analysis (MCA) untuk mengidentifikasi potensi penggunaan blast fishing, serta analisis SWOT untuk menyusun strategi penanggulangannya. Hasil dari analisis keberlanjutan didapatkan bahwa secara umum dimensi ekologi, teknologi dan sosial ekonomi kurang berlanjut, sementara dimensi kelembagaan cukup berlanjut. Atribut yang sensitif pada dimensi ekologi adalah eksploitasi karang yang tinggi, dimensi teknologi adalah pascapanen yang masih rendah, penggunaan metode destructive fishing. Dimensi sosial ekonomi adalah target pasar ikan blast fishing serta pada dimensi kelembagaan adalah pelaksanaan Monitoring, Controlling and Surveillance yang masih jarang dilakukan serta tingkat kepatuhan masyarakat yang rendah. Indeks Potensi Blast Fishing tertinggi untuk dimensi ekologi dan teknologi didapatkan di Pulau Auki, Pulau Wundi dan Kampung Soryar masing-masing sebesar 0.14. Sedangkan dimensi sosial ekonomi dan budaya tertinggi didapatkan di Pulau Nusi, Pulau Pulau Auki dan Pulau Wundi masing-masing sebesar 0.12 (kurang berpotensi) serta dimensi kelembagaan tertinggi di Pulau Auki, Pulau Wundi, Kampung Mokmer dan Kampung Soryar masing-masing sebesar 0.13 (kurang berpotensi). Strategi penanggulangan blast fishing, antara lain: peningkatan kapasitas masyarakat lokal dan pengakuan hak-hak ulayat dalam pengelolaan sumberdaya; sinkronisasi program serta peningkatan koordinasi antar stakeholders dalam setiap proses tahapan program; revitalisasi secara luas nilai-nilai kearifan lokal (sasien) pengelolaan sumberdaya, baik dalam kelompok masyarakat pemilik sumberdaya maupun masyarakat luar; peningkatan pelaksanaan kegiatan MCS yang berbasis masyarakat dan pasar, penyuluhan hukum lingkungan serta penegakan hukum; pengaturan kegiatan penangkapan terutama nelayan dari luar; peningkatan teknologi yang efektif, dan lebih ramah lingkungan serta pengolahan pasca panen; peningkatan infrastruktur yang terintegrasi; peningkatan pengetahuan lingkungan dan kampanye dan larangan tidak mengkonsumsi ikan hasil blast fishing. Kata kunci: pengelolaan berkelanjutan, ekosistem terumbu karang, mitigasi blast fishing, Kabupaten Biak Numfor.
Keywords: blast fishing, terumbu karang, berkelanjutan, model penanggulangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar