Teluk Depapre yang terletak di Kabupaten Jayapura Papua berdasarkan jejaring kawasan Konservasi Perairan (KKP) Indonesia berada dalam Ekoregion Laut 16, pada tahun 2015 telah diusulkan sebagai Calon Kawasan Konservasi Perairan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura. Kawasan Teluk Depapre yang juga dikenal dengan kawasan teluk Tanah Merah telah ditetapkan sebagai kawasan strategis penunjang pembangunan di Provinsi Papua melalui Perpres RI No. 65 tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Salah satu pembangunan infrastruktur penunjang tersebut, yakni pembangunan dermaga penumpang dan pelabuhan peti kemas yang mulai dibangun pada tahun 2015. Penetapan kawasan strategis tersebut telah memicu tumbuhnya kawasan tersebut. Kondisi tersebut tidak hanya menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat lokal tetapi juga menyebabkan tekanan terhadap sumberdaya yang ada. Terbukanya kawasan dan masuknya masyarakat migran dapat memicu intensitas pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan yang berpotensi menimbulkan konflik pemanfaatan sumber daya, bahkan juga berdampak pada lunturnya nilai-nilai budaya masyarakat local serta lunturnya kesadaran tentang pelestarian sumber daya.
Minggu, 14 Oktober 2018
Senin, 26 Desember 2016
POTENSI EKOSISTEM MANGROVE DI TAMAN WISATA TELUK YOUTEFA KOTA JAYAPURA PAPUA
Ekosistem mangrove memiliki keanekaragaman hayati baik dari manfaat ekologi maupun sosialnya. Ekosistem ini berperan dalam siklus ekologi di wilayah pesisir dengan ketergantungan biota perairan dan manusia terhadap keberadaannya. Manfaat ekonomi langsung dari ekosistem mangrove adalah kayu mangrove sebagai bahan bakar maupun sebagai bahan bangunan dan kawasan hutan yang dialih fungsikan sebagai area tambak. Kawasan ekosistem mangrove Taman Wisata Teluk Youtefa yang berada dekat dengan perkotaan, menjadikan kawasan tersebut berkaitan langsung dengan keberagaman aktivitas tersebut, seperti pemanfaatan kayu mangrove sebagai kayu bakar, bahan bangunan dan sebagainya yang mengakibatkan penurunan kualitas ekosistem mangrove. Selain itu terdapat aktivitas, seperti konversi lahan menjadi tambak, pemukiman dan industri, serta tingginya pencemaran dan sedimentasi dari lahan perkotaan. Sebagai upaya pengelolaannya berdasarkan konsep dan prinsip terpadu, maka perlu disusun rencana strategis pengelolaanya agar dapat berkelanjutan. Dari proses penyusunan tersebut, terlihat bahwa peranan stakeholder sangat dibutuhkan dalam setiap langkah penyusunan program. Selain itu, dimensi pengelolaan, yaitu ekologi, sosial ekonomi maupun kelembagaan menjadi pertimbangan utama sebagai satu kesatuan tahapan.
Kata Kunci: Mangrove, Pengelolaan terpadu, Teluk Youtefa
http://journal.trunojoyo.ac.id/jurnalkelautan/article/view/798
Senin, 19 Desember 2016
Kajian suhu permukaan laut mengunakan data satelit Aqua-MODIS di perairan Jayapura, Papua
Informasi suhu permukaan laut (SPL) dalam bidang kelautan dan perikanan memiliki peran yang
sangat penting. Data satelit Aqua-MODIS sangat baik untuk pemantauan perubahan SPL secara berkala. Tujuan
penelitian ini adalah menganalisis sebaran temporal dan spasial SPL di perairan Jayapura, Papua. Data yang
digunakan adalah data SPL dari sensor satelit Aqua-MODIS periode Juni 2011 sampai Mei 2015. Analisis data
yang digunakan adalah analisis deskriptif yang meliputi analisis SPL secara temporal berdasarkan fluktuasi SPL
bulanan dan musiman dalam bentuk grafik deret waktu, dan analisis spasial berdasarkan visualisasi degradasi
warna pada peta sebaran rata-rata SPL bulanan. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi temporal SPL
bulanan di perairan Jayapura selama empat tahun cenderung mengalami penurunan. Nilai SPL di perairan
Jayapura bervariasi antara 25°C-31°C dengan SPL dominan berkisar antara 27°C-29°C. Nilai SPL maksimum
terjadi pada bulan November (29.25°C) dan minimum pada bulan Maret (27.86°C). Variabilitas nilai SPL di
perairan Jayapura dipengaruhi oleh musim, SPL pada musim timur dan musim peralihan II cenderung lebih
tinggi dibandingkan dengan SPL pada musim barat dan musim peralihan I. Sebaran spasial SPL di perairan
lepas pantai cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan SPL di perairan dekat pesisir.
Kata kunci : SPL; Aqua-MODIS; Variabilitas Temporal dan Spasial; Perairan Jayapura Unduhan
http://www.jurnal.unsyiah.ac.id/depik/article/view/3055
Senin, 18 Juli 2011
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUT DALAM RANGKA PENANGGULANGAN KEMISKINAN MASYARAKAT PESISIR DI PAPUA*
Indonesia terutama Papua memiliki
sumberdaya alam yang melimpah tetapi masyarakatnya banyak yang masih dikategorikan
miskin. mengapa demikian?. Tulisan ini akan sedikit banyak memberikan pemikiran atas banyaknya perdebatan dan kenyataan yang selama ini yang penulis sebut dengan paradoks sumberdaya alam. Tulisan ini juga sebagai pencerahan atas implementasi penanggulangan kemiskinan
di bumi nusantara dengan persfektif yang
relatif baru untuk diimplementasikan di Indonesia. Persfektif Pengelolaan Pesisir
dan Laut Terpadu (Integrated Coastal
Management) khususnya masyarakat nelayan dalam penanggulangan kemiskinan.
Langganan:
Postingan (Atom)