Jumat, 05 Maret 2010

Pentingnya Konservasi Mangrove di Teluk Youtefa Kota Jayapura Sebagai Pendukung Sumber Daya Hayati Perikanan

Pendahuluan Secara geografis wilayah Kota Jayapura terletak di bagian utara Provinsi Papua, pada 1028'26” - 3058'82” LS dan 137024 10” - 14100’ 8,22” BT, yang berbatasan langsung dengan Distrik Sentani Timur dan Depapre Kabupaten Jayapura di sebelah barat; Negara Papua New Guinea di sebelah timur; Laut Pasifik di sebelah utara berbatasan dengan Lautan Pasifik; dan Distrik Skamto Kabupaten Keerom disebelah selatan (BPS Kota Jayapura, 2007).
Bentuk garis pantai Kota Jayapura bervariasi berupa tanjung dan teluk dengan bentuk yang berlekuk-lekuk. Teluk Youtefa berada dalam wilayah Pemerintahan Kota Jayapura merupakan teluk yang hampir menyambung dengan Teluk Yos Sudarso yang terletak di sebelah barat daya. Teluk Youtefa diapit oleh dua buah tanjung, di bagian barat adalah Tanjung Pie yang banyak ditumbuhi vegetasi mangrove, dan di bagian timur terdapat Tanjung Saweri, di bagian belakang teluk membentuk pantai timur Teluk Youtefa, sementara pantai-pantai di sebelah barat dan selatan terdiri dari bukit-bukit curam.

Teluk Youtefa telah ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 372/KPTS/Um/1/1978. Kota Jayapura memiliki mangrove di Teluk Youtefa yang luasnya tidak kurang dari 984 ha dengan ketebalan rata-rata mencapai 200 meter dari garis pantai. Vegetasi mangrove tersebut dapat dijumpai di Kampung Nafri, Kampung Enggros, dan Kampung Tobati dalam bentuk vegetasi yang mengelompok kecil dan besar (lihat gambar 1). Terdapat 12 jenis mangrove yang ditemukan di Taman Wisata Teluk Toutefa (TWTL), yakni: Rhizophora mucronata, R. stylosa, R. apiculata, Bruguera gymnoriza, B. cylindrical, Ceriops tagal, Avicennia marina, A. alba, A. apiculata, Soneratia alba, Aegiceras comiculatum, Scyphyphora hydrphylacea, Xylocarpus granatum, X. mollucensis, dan Nypa fruticans. (Paulangan, 2007; DKP Pemda Provinsi Papua, 2007).
Sebagian besar kondisi mangrove di Taman Wisata Teluk Youtefa sudah mengalami kerusakan seperti konversi lahan mangrove menjadi areal tambak di sekitar Kampung Nafri dan pembangunan jalan di Holtekamp, dan konversi menjadi lahan pemukiman di Entrop. Disamping itu penebangan mangrove untuk keperluan pembuatan perabot rumah tangga, pengambilan kayu dan ranting mangrove untuk kayu bakar yang berlebihan, buangan sampah dari Pasar Youtefa dan Pasar Entrop dan ancaman abrasi pantai semakin memperburuk kondisi vegetasi ekosistem mangrove yang telah menipis.
Kondisi demikian akan mengurangi kualitas ekosistem pesisir sebagai pendukung sumberdaya hayati perikanan yang menunjang sector penghidupan masyarakat di sekitar Taman Wisata Teluk Youtefa. Sebagian besar masyarakat sangat tergantung pada mata pencaharian sebagai nelayan. Artinya bahwa masarakat memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap manfaat dari ekosistem mangrove tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Mumby et al., (2004) sebagaimana yang diacu Granik, et.al., (2008), bahwa hilangnya mangrove akan mengurangi kualitas pesisir, mengurangi keanekaragaman hayati, menghilangkan habitat dan tempat pemijahan ikan, mempengaruhi habitat yang berdekatan pesisir dan menghilangkan sumber daya utama bagi masyarakat manusia yang tradisional bergantung pada hutan mangrove untuk berbagai produk dan jasa. Selain itu, di beberapa lokasi, selain berkurangnya pendapatan masyarakat nelayan, hilangnya mangrove mungkin juga mengakibatkan berkurangnya pendapatan sector pariwisata (Granik et al., 2008).
Di Taman Wisata Teluk Youtefa, data tentang seberapa besar dampak kerusakan mangrove tersebut terhadap biodiversity, seperti udang, ikan, kepiting dan lainnya masih sangat terbatas. Namun beberapa survey menunjukkan bahwa ada tren penurunan kualitas yang akhirnya mengurangi potensi ekosistemnya, sebagaimana yang dilaporkan DKP Pemerintah Daerah Provinsi Papua (2007), bahwa beberapa jenis biota ekonomis tangkapan masyarakat di Teluk Youtefa telah berkurang. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi penurunan stok, namun tentunya hal ini perlu dibuktikan dengan penelitian lanjutan. Kemudian dalam Rumbekwan (2009), bahwa untuk larva bandeng khususnya, kelimpahan dan distribusinya telah berkurang yang membandingkan hasil tangkapan tahun 2003 dengan tangkapan pada tahun 2008. Selanjutnya disebutkan bahwa kondisi ini dikarenakan penurunan rekriutmen alami akibat tingginya sedimentasi, dan erosi karena berkurangnya luasan mangrove penggunaan bom ikan. Kondisi yang demikian juga telah dilaporkan di beberapa daerah sebagaimana yang dilaporkan oleh Sontirat (1989) dalam Gunarto (2004) bahwa di kanal Klong Wan, Thailand misalnya, sebelum terjadi kerusakan mangrove terdapat 4 genus kepiting yaitu Uca sp., Sesarma sp., Metapograpsus sp., dan Scylla serrata serta 72 spesies ikan yang termasuk dalam 6 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Belonoformes, Mugiliformes, Perciformes, dan Tetrodontiformes setelah terjadi degradasi ekosistem mangrove. Selain itu, Boyd (1999) dalam Gunarto (2004) menyatakan bahwa setelah mangrove hilang, ukuran ikan menjadi lebih kecil dan spesiesnya tinggal 34 spesies yang masuk dalam 5 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Beloniformes, Mugiliformes, dan Perciformes. Kondisi demikian pada akhirnya dapat menyebabkan produksi perikanan pantai menurun. Kondisi demikian juga terlihat dari hasil tangkapan nelayan mulai menurun di Taman Wisata Teluk Youtefa.
Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem mangrove sangat mendesak untuk dilakukan agar keberadaan biota dan mangrove dapat lestari. Makalah ini membahas fungsi mangrove dan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, serta makrobentos yang hidup sekitar perairan mangrove sebagai gambaran dan pertimbangan dalam manajemen, pemulihan dan konservasi ekosistem berharga ini mangrove di Taman Wisata Teluk Youtefa Kota Jayapura.

Fungsi Mangrove
Hutan bakau selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat hanya sebagai bahan untuk kayu bakar dan sebagai area tambak maupun sebagai bahan bangunan. Atas dasar inilah masyarakat hanya melihat fungsi hutan bakau secara langsung sedangkan fungsi lain ekosistem mangrove sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground) dan tempat membesarkan anak (nursery ground) kurang mendapat perhatian yang lebih. Dengan alasan ini pulalah pemerintah seringkali menjadikan manfaat langsung tersebut sebagai tawaran nilai ekonomi ekosistem mangrove jika diperhadapkan dengan kepentingan sektor lainnya. Padahal nilai dari fungsi ekosistem mangrove tersebut dipastikan tidak dapat digantikan olreh ekosistem lainnya.
Mangrove merupakan kelompok tumbuhan khas yang dapat bertahan hidup pada air payau, habitat yang terlindung di sepanjang pantai tropis dan sub-daerah tropis. Mangrove dikenal sebagai produsen utama, pelindung garis pantai, pembenihan dan habitat untuk berbagai biota, dan sumber daya hayati yang unik. Mangrove dapat mengendalikan erosi dan stabilisasi garis pantai. Tsunami baru-baru ini telah membuktikan pentingnya bakau sebagai pelindung garis pantai (Kulkarni, 2008). Studi baru-baru ini juga melaporkan bahwa mangrove meningkatkan biomas ikan karang (Mumby et al., 2004). Ekosistem mangrove sebagai penyuplai berbagai maerial ke daerah pantai (Alongi, 1989); Hatcher dkk., 1989; Chong dkk., 1990; Lee, 1995). Selain itu, mangrove menyediakan bahan organik dan nutrisi, yaitu nitrogen dan fosfor ke wilayah pesisir melalui dekomposisi material mangrove. Detritus mangrove setelah terbawa air laut merupakan nutrisi yang berpengaruh nyata bag kehidupan pesisir dan laut (Rodelli dkk, 1984; Hatcher, dkk, 1989; Fleming, 1990; Marguiller dkk, 1997). Proses pembusukan sampah melibatkan rangkaian peristiwa yang kompleks yang mencakup zat pencemaran, abrasi mekanik, kolonisasi oleh decomposer mikroba seperti bakteri dan jamur (Tam et al., 1998), serta oleh makro invertebrata (Zhou, 2001). Karena ekosistem mangrove menstimulasi produktivitas pantai, maka daerah pantai yang bermangrove akan memiliki hasil perikanan yang lebih besar dibanding daerah pantai tanpa mangrove (Marshall, 1994).
Mangrove biasanya berada di daerah muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut. Mangrove mengangkut nutrien dan detritus ke perairan pantai sehingga produksi primer perairan di sekitar mangrove cukup tinggi dan penting bagi kesuburan perairan. Dedaunan, ranting, bunga, dan buah dari tanaman mangrove yang mati dimanfaatkan oleh makrofauna, misalnya kepiting sesarmid, kemudian didekomposisi oleh berbagai jenis mikroba yang melekat di dasar mangrove dan secara bersama-sama membentuk rantai makanan. Detritus selanjutnya dimanfaatkan oleh hewan akuatik yang mempunyai tingkatan lebih tinggi seperti bivalvia, gastropoda, berbagai jenis juvenil ikan dan udang, serta kepiting. Karena keberadaan mangrove sangat penting maka pemanfaatan mangrove untuk budidaya perikanan harus rasional.
Selain itu, mangrove juga dapat digunakan sebagai obat-obatan tradisional telah dikenal selama berabad-abad di wilayah pantai Indonesia (Santoso dkk, 2005), beberapa jenis mangrove yang dapat diolah menjadi bahan makanan olahan tersebut antara lain jenis Api-api/Birayo (Avicenia spp), Pidada (Sonneratia spp) dan Nipah (Nypa fruticans).
Sebagai penyedia karbon, Bouillon (2007) menyatakan bahwa hutan mangrove pesisir setara dengan hutan tropis dan memainkan peran penting dalam keseimbangan karbon pesisir tropis ekosistem. Mangrove merupakan ekosistem pantai tropis sangat produktif yang memiliki dampak yang berpotensi tinggi pada cadangan karbon tropis dan daerah pantai secara umum. Buillon (2007) memperkirakan bahwa input dari hutan mangrove sebesar 11% dari total masukan dari terestrial karbon ke laut dan 15% dari total karbon terakumulasi di sedimen laut. Demikian juga dengan, bahwa bakau berkontribusi ~ 10% dari karbon organik terlarut terestrial (DOC) diekspor ke laut secara global, meskipun relatif kecil disbanding habitat lainnya.
Hutan mangrove mendukung kelimpahan yang tinggi dan berbagai biota serta satwa liar yang beragam sebagai hasil dari tingkat serasah dan pelapukan detritus. Melalui detritus mangrove telah digambarkan dalam beberapa studi (Alongi, 1990; Alongi et al., 1989). sisa-sisa makanan berbasis jaring makanan dipelihara dalam ekosistem pesisir dan arti penting bagi perikanan pantai. Oleh karena itu, berkaitan dengan fungsi hutan mangrove sebagai sumber makanan. Produksi ikan diyakini tergantung pada daerah mangrove, dan ketergantungan dari banyak spesies udang penaeid di mangrove juga telah ditunjukkan (Christensen, 2000).
Kepadatan mangsa ikan dan decapoda mungkin lebih besar di dalam mangrove daripada di tempat lain, tetapi belum ada verifikasi bahwa ketersediaan pangan mempengaruhi pertumbuhan atau kelangsungan hidup. Akar-akar mangrove memberikan perlindungan bagi nekton kecil dari predator, sehingga meningkatkan kelangsungan hidup secara keseluruhan. Bahkan, penurunan di daerah mangrove di Delta Mekong jelas berdampak pada penurunan produksi perikanan pesisir selama dekade terakhir (Thu, 2007).Keberadaan ekosistem mangrove bagi sumberdaya larva ikan bandeng adalah sebagai daerah asuhan untuk menjadi ikan muda (Lee et.al, 1986; Watanabe, 1986).
Manfaat yang diperoleh dari ekosistem mangrove ini berkembang cukup luas dan mencakup berbagai ekonomi, lingkungan dan aspek sosial, termasuk penyerapan karbon untuk memerangi pemanasan global dan perlindungan dari erosi, banjir, badai, topan dan gelombang pasang (Primavera , 2000). Di samping itu, kerugian besar mangrove telah terjadi di seluruh dunia seperti pantai erosi, penurunan sumber daya perikanan dan konsekuensi terhadap lingkungan lainnya (Kairo et.al, 2001).

Vegetasi Mangrove Taman Wisata Teluk Youtefa
Mangrove mempunyai komposisi vegetasi tertentu. Pembentukan kelompok vegetasi ini adalah berbagai spesies tanaman mangrove yang dapat beradaptasi secara fisiologis terhadap lingkungan yang khas, yaitu salinitas tinggi, sedang atau rendah, tipe tanah yang didominasi lumpur, pasir atau lumpur berpasir, dan terpengaruh pasang surut sehingga terbentuk zonasi (Walter 1971 dalam Mustafa dan Sunusi 1981).
Di Taman Wisata Teluk Youtefa Kota Jayapura ditemukan 15 jenis mangrove, antara lain : Rhizophora mucronata, R. stylosa, R. apiculata, Bruguera gymnoriza, B. cylindrical, Ceriops tagal, Avicennia marina, A. alba, A. apiculata, Soneratia alba, Aegiceras comiculatum, Scyphyphora hydrphylacea, Xylocarpus granatum, X. mollucensis, dan Nypa fruticans (Paulangan, 2007; DKP Pemda Provinsi Papua, 2007).
Hasil analisis vegetasi yang didapatkan dari hasil pengolahan data indraja dan berdasarkan jalur transek barat-timur dan utara selatan memperlihatkan bahwa komunitas mangrove di kawasan Teluk Youtefa terbagi ke dalam tiga zonasi. Dari laut ke darat susunannya adalah jenis Rhizophora spp kemudian jenis campuran Sonneratia alba, Rhizophora spp, Bruguiera gymnoriza, sedangkan pada daerah yang mendekat dengan daratan, dijumpai Sonneratia spp dan Nypa fructicans serta beberapa mangrove ikutan yang masuk dalam zona ini seperti Instia sp, Pometia sp, Calophyllum, Cocos nucifera, Musa paradisiaca, dan Pandanus sp (Paulangan, 2007; DKP Pemda Provinsi Papua, 2007).
Lebar zonasi Taman Wisata Teluk Youtefa di beberapa lokasi mencapai sekitar 200 m. Lebar zonasi ini lebih tipis dibanding dengan lebar zonasi daerah Teluk lainnya di Papua seperti di Teluk Bintuni yang dapat mencapai beberapa kilometer bahkan puluhan kilometer. Menurut Dahuri (2003), lebar zonasi hutan mangrove tergantung dari fisiografi wilayah pesisir dan dinamika pasang surut. Pada pantai berbentuk lurus, ketebalan mangrove hanya berkisar antara 25 sampai 50 meter seperti di pantai Utara Jawa sedangkan di kawasan estuaria dan teluk yang dangkal dan tertutup. Perbedaan vegetasi di setiap daerah berbeda satu dengan yang lain disebabkan karena vegetasi mangrove mempunyai morfologi dan anatomi tertentu sebagai respons fisiogenetik terhadap habitatnya. Vegetasi mangrove yang bersifat halopitik menyukai tanah-tanah yang bergaram, misalnya Avicennia sp., Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., dan Xylocarpus sp. Vegetasi tersebut menentukan ciri lahan mangrove berdasarkan sebaran, dan sangat terikat pada habitat mangrove seperti Acanthus sp., Baringtonia sp., Callophyllum sp., Calotropis sp., Cerbera sp., Clerodendron sp., Derris sp., Finlaysonia sp., Hibiscus sp., Ipomoea sp., Pandanus sp., Pongamia sp., Scaevola sp., Sesuvium sp., Spinifex sp., Stachytarpheta sp., Terminalia catappa, Thespesia sp., dan Vitex sp (Gunarto, 2005).

Komunitas Ikan, Udang, Kepiting dan Biota lainnya di Perairan Mangrove
Ekosistem mangrove di kawasan Taman Wisata Teluk Youtefa Kota Jayapura memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung sektor perikanan pantai. Sebagaimana yang disebutkan di awal bahwa perairan mangrove merupakan daerah perawatan (nursery ground) dan tempat makan (feeding ground) bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Sebagai contoh, Chong et al. (1990) melaporkan bahwa perairan mangrove merupakan tempat mencari makan pada waktu terjadi pasang tinggi bagi ikan-ikan ekonomis maupun non-ekonomis. Komunitas ikan di perairan mangrove didominasi oleh beberapa spesies, meskipun spesies ikan yang tertangkap relatif banyak, dan pada umumnya masih berukuran juvenil. Sebagai contoh di perairan mangrove Trinity, Quensland Utara, Australia diperoleh 55 spesies ikan, di Tudor Creek Kenya diperoleh 83 spesies ikan, dan di Puerto Rico 59 spesies ikan. Jumlah spesies ikan yang lebih banyak (128 spesies) diperoleh di mangrove Paglibao, Filipina (Sesakumar et al. 1992). Sedangkan berdasarkan hasil pemantauan tangkapan ikan di perairan mangrove Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh (Pirzan et al. 2001), dengan alat tangkap sero yang memiliki panjang 300−400 m dan dipasang di dataran lumpur 10 m di belakang hutan mangrove, jumlah spesies ikan yang tertangkap meliputi 27 spesies dengan jumlah individu terbanyak dari famili Mullidae. Jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di antaranya adalah Lates calcarifer, Siganus guttatus, dan S. vermiculatus (Gunarto, 2005). Kemudian di perairan muara Sungai Lamuru, Kabupaten Bone yang dilakukan juga oleh Pirzan et al. (1999) dalam Gunarto (2004) dengan kondisi mangrove yang sudah sangat berkurang mendapatkan 17 spesies ikan, 3 spesies udang, dan 5 spesies kepiting. Spesies udang jumlahnya relatif sedikit. Keberadaan juvenil udang di mangrove terutama disebabkan banyaknya ketersediaan pakan. Sistem perakaran mangrove merupakan tempat berlindung juvenil udang dari sergapan predator. Selain itu, perairan mangrove biasanya keruh sehingga secara alami akan menghindarkan juvenil udang dari pemangsanya. Kemudian di anak estuarin Selangor, Malaysia dijumpai 5 spesies udang dan di estuarin diperoleh 8 spesies udang dengan komposisi terbanyak adalah Penaeus penicillatus, P. merguiensis, P. indicus, dan Metapenaeus brevicornis. Di sekitar perairan mangrove Tongke-Tongke, Sinjai, berdasarkan monitoring hasil tangkapan sero diperoleh empat spesies udang yaitu Penaeus indicus, P. merguiensis, P. monodon, dan P. semisulcatus dengan spesies dominan adalah P. Semisulcatus.. Perbedaan jumlah spesies tersebut kemungkinan karena perairan estuarin biasanya lebih subur dan mempunyai kisaran salinitas yang lebih luas dibandingkan dengan perairan pantai tanpa estuarin sehingga organisme akuatiknya juga lebih beragam termasuk udang. Perbedaan jumlah spesies kemungkinan juga disebabkan oleh perbedaan alat tangkap dan ukuran mata jaring yang digunakan, lama waktu penangkapan, dan kondisi mangrove yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia atau telah banyak dikonversi.
Berbagai jenis krustasea yang hidup di mangrove menggali tanah. Kartawinata et.al., (1979) sebagiamana yang dikutip dalam Dahuri (2001) bahwa hutan mangrove merupakan habitat bagi fauna krustasea dan moluska, dimana tercatat ada 80 spesies krustasea dan 65 spesies moluska yang hidup di perairan hutan mangrove Indonesia. Kepiting Thalassina sp. yang merupakan indikator adanya tanah sulfat masam menggali lubang hampir horisontal dengan percabangan pada sisi-sisinya, sedangkan Upogebia sp. membentuk lubang seperti huruf “U”. Kepiting Sesarma sp. menggali lubang yang lebih sederhana dengan ruangan yang luas di dasarnya. Selanjutnya kepiting jenis Portunidae seperti Scylla serrata dapat menggali lubang hingga 5 m ke luar dari sisi tebing sungai masuk ke mangrove. Fungsi lubang bagi kepiting bervariasi, bergantung pada spesiesnya, yaitu sebagai tempat menghindar dari predator, tempat menampung air, sumber bahan pakan organik seperti pada Thalassina sp., sebagai rumah atau daerah teritorial dalam berpasangan dan kawin, tempat pertahanan, dan tempat mengerami telur atau anaknya. Campuran dari deposit organik dengan flora, bakteria, diatom, dan mikroorganisme lainnya yang terdapat di dasar mangrove merupakan sumber makanan bagi berbagai jenis kepiting. Kepiting Uca sp. betina mengambil lumpur dengan kedua kaki capitnya yang kecil sehingga lebih cepat mengambil makanan dibandingkan dengan Uca sp. jantan yang hanya mempunyai satu kaki capit yang kecil, sedangkan kaki capit satu lagi ukurannya besar sehingga sulit untuk mengambil makanan (Gunarto, 2004).
Beberapa jenis biota yang terdapat di mangrove Teluk Youtefa, antara lain kepiting (Scylla serrata), kerang-kerangan, larva udang dan ikan banding. Namun saat ini biota tersebut telah mengalami penurunan. Kerang dan kepiting merupakan biota target penangkapan utama masyarakat di Teluk Youtefa. Kajian jenis dan kelimpahan biota terutama yang bernilai ekonomis tersebut masih terbatas, sehingga dalam menentukan sejauh mana penurunan dari biota-biota tersebut masih sulit diperkirakan. Untuk itu, ke depan mestinya diupayakan karena keanekaragaman mangrove memiliki kaitan yang erat dengan kelimpahan biota penghuninya. Sebagaimana penelitian Pratiwi (2009) di Kalimantan Timur, bahwa ada hubungan antara kelimpahan dan keanekaragaman jenis kepiting, dimana semakin tinggi keanekaragaman mangrove, maka semakin tinggi pula keanekaragaman jenis kepiting yang ditemukan.
Chong et al. (1990) melaporkan, spesies ikan yang dominan di perairan dataran lumpur merupakan spesies estuarin, yaitu ikan manyung (Osteogeneiosus militaris), ikan keting (Arius caelatus), ikan sembilang (Plotosus canius), ikan belanak (Liza argentez), ikan gulameh (Pennahia argentata), ikan tiga waja (Protonibea diacanthus), ikan teri (Stolephorus macroleptus), dan ikan cucut (Hemiscyllium indicum). Selain berbagai jenis ikan di perairan mangrove, di dasar mangrove juga terdapat ikan belodok “mudskippers” yang mampu hidup di luar air dalam waktu relatif lama. Periopthalmus vulgaris sering berlama-lama jauh dari air. Boleopthalmus boddaerti, Periopthalmus chrysospilos, Periophthalmodon schlosseri, dan Scartelaos viridis dapat ditemukan di pantai di bawah tanaman mangrove. S. viridis dan kepiting Macropthalmus latreilli menyukai substrat lumpur mangrove yang sangat lunak dan berair, sedangkan B. boddaerti dan P. schlosseri umumnya menempel pada tanaman mangrove yang masih muda dan terdapat aliran air sehingga P.schlosseri sering terbawa arus masuk ke daerah terrestrial.
Selain ikan dan kepiting, Siput (Littorina scabra) merupakan pemakan razer dominan pada mangrove tropis, dan memainkan peranan yang penting dalam dinamika rantai makanan ekosistem tersebut. (Alfaro, 2008). Sementara Gastropod Terebralia palustris sering mendominasi permukaan lumpur dan subtrat pasir daerah intertidal lumpur flat dan hutan mangrove (Pape et.al., 2008).

Upaya Pelestarian Mangrove
Mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Dengan demikian, keberadaan sumber daya mangrove perlu diatur dan ditata pemanfaatannya secara bertanggung jawab sehingga kelestariannya dapat dipertahankan.
Taman Wisata Teluk Youtefa yang memiliki sekitar 15 jenis mangrove termasuk dengan keanekaragaman jenis yang tinggi. Keanekaragaman jenis tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan keanekaragaman jenis mangrove di Teluk Bintuni atau jenis vegetasi secara keseluruhan di Indonesia yakni terdapat sekitar 75 spesies (Inoue et al. 1999). Daerah pantai termasuk mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun (Inoue et al. 1999).
Dalam Central Visayas Regional Project, di Filipina, Primavera (2000) memberikan rekomendasi atas upaya pengelolaan mangrove, meliputi konservasi mangrove yang masih tersisa, rehabilitasi tambak ditinggalkan yang telah ditinggalkan termasuk akuakultur ramah mangrove, berbasis masyarakat dan pengelolaan kawasan pesisir terpadu, dan penyediaan alat tenurial.
Melihat fungsi mangrove yang sangat strategis dan semakin meluasnya kerusakan yang terjadi, maka upaya pelestarian mangrove harus segera dilakukan.

Ancaman Ekosistem Mangrove Taman Wisata Teluk Youtefa
Selain ancaman pemanfaatan yang berlebihan dan konversi untuk lahan tertentu mengancam keberadaan mangrove, ekosistem mangrove juga terancam oleh perubahan iklim. (Gilman et.al., 2008) menyatakan bahwa dari semua hasil perubahan iklim, kenaikan relatif permukaan air laut, mungkin merupakan ancaman terbesar terhadap mangrove. Tingkat kenaikan permukaan laut akan memiliki dampak terbesar dengan menurunnya ketinggian endapan di mangrove, di mana ada wilayah terbatas untuk migrasi ke darat. Perencanaan pesisir dapat beradaptasi dengan memfasilitasi migrasi mangrove dengan kenaikan permukaan laut. Pengelolaan kegiatan dalam cakupan yang mempengaruhi tren jangka panjang di ketinggian sedimen mangrove, rehabilitasi daerah mangrove, dan peningkatan sistem dirancang secara strategis dalam kawasan lindung yang meliputi mangrove dan fungsional ekosistem terhubung melalui perwakilan, replikasi dan refugia, tambahan pilihan adaptasi.
Selain itu, tumpang tindih sumber daya laut dan darat di mangrove menciptakan ambiguitas kewenangan menyulitkan pengelolaan dan dapat menyebabkan konflik kepentingan (Walters et.al., 2008) yang merupakan konsekuensi dari eksploitasi pesisir di Indonesia sangat kompleks (Sukardjo, 2002).
Sejak ditetapkannya Teluk Youtefa sebagai sebagai Taman Wisata Alam (TWA) melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 372/KPTS/Um/1/1978 menyebabkan ekosistem mangrove yang berada di dalam kawasan ini juga berpotensi untuk dijadikan kawasan ekowisata (kepariwisataan alam).
Selain itu, sebagian besar areal mangrove yang ada di Kota Jayapura telah ditetapkan sebagai kawasan Tahura, sehingga pengelolaan mangrove secara tradisional yang telah dimiliki oleh masyarakat berpeluang dikembangkan guna menunjang pemanfaatan sumberdaya mangrove secara berkelanjutan.
Namun demikian, kehadiran penduduk lokal di sekitar kawasan mangrove jika tidak ditunjang dengan kearifan lokal dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian mangrove maka aktifitas pemanfaatan yang dilakukan oleh masyarakat dapat saja mengancam sumberdaya mangrove, seperti aktifitas penebangan kayu mangrove yang tidak terkendali untuk dijadikan perabot rumah tangga, pengambilan kayu untuk dijadikan kayu bakar, konversi lahan mangrove dijadikan tambak atau perumahan, dan banyak lagi aktifitas penduduk sekitar mangrove yang dapat mengancam kelestarian mangrove itu sendiri.
Beroperasinya Pasar Youtefa dan Pasar Hamadi juga menyebabkan kerusakan mangrove, khususnya yang ada di Kampung Enggros banyak dipenuhi sampah. Buangan sampah pasar tersebut biasanya memuncak pada musim hujan sehingga kawasan mangrove dipenuhi bau tidak sedap dan tidak menarik dipandang. Sampah-sampah pasar dalam jumlah besar tersebut, terutama yang bentuknya anorganik jika mengendap dan menutupi akar-akar pohon mangrove akan mengganggu proses respirasi mangrove sehingga dalam waktu lama dapat menimbulkan kematian.
Rencana pembangunan jalan dan jembatan dari Hamadi ke Holtekamp jika tidak melalui perencanaan yang baik akan dapat mengancam keberadaan ekosistem mangrove di Teluk Youtefa. Kegiatan pembangunan jalan yang biasanya mengekstraksi lingkungan biasanya diikuti oleh dampak terjadinya erosi dan sedimentasi perairan yang menyebabkan berubahnya pola sirkulasi air dan berubahnya pola arus sehingga habitat mangrove dapat terkikis.

Kesimpulan
Mangrove di Taman Wisata Teluk Youtefa memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar terutama dalam menunjang sector perikanan, dimana mana fungsinya sebagai habitat untuk pembesaran (nursery ground), daerah tempat mencari makan (feeding ground), dan sebagai daerah tempat pemijahan (spawning ground) bagi biota ekonomis seperti ikan, udang, kepiting dan biota lainnya lainnya. Namun sudah banyak mengalami degradasi yang disebabkan oleh pemanfaatan yang berlebihan serta konversi lahan mangrove untuk pembangunan jalan, pemukiman, penebangan hutan manrove untuk kayu bakar, bahan bangunan serta diperparah dengan pencemaran limbah padat maupun limbah cair (pencemaran).
Hilangnya mangrove di Taman Wisata Teluk Youtefa akan mengurangi kualitas pesisir di sekitarnya, mengurangi keanekaragaman hayati, menghilangkan habitat dan tempat pemijahan ikan, mempengaruhi habitat yang berdekatan pesisir dan menghilangkan sumber daya utama bagi masyarakat yang bergantung pada hutan mangrove untuk berbagai produk dan jasa. Sebagai taman wisata, kondisi yang demikian akan mengurangi pendapatan pariwisata di Taman Wisata Teluk Youtefa .
Karena mangrove memiliki fungsi yang strategis dan semakin meluasnya kerusakan yang terjadi, maka upaya pelestarian mangrove harus segera dilakukan. Namun lebih baik jika penelitian dari hilangnya mangrove terhadap sumberdaya perikanan dan kelautan serta dampaknya terhadap kondisi sosial, ekonomi masyarakat di kawasan tersebut dilakukan.

REFERENSI

Alfaro AC. 2008. Diet of Littoraria scabra, while vertically migrating on mangrove trees: Gut content, fatty acid, and stable isotope analyses. Estuarine, Coastal and Shelf Science 79; 718–726
Alongi D.M. 1989. The Role of Soft-bottom Benthic Communites in Tropical Mangrove and Coral Reef Ecosystem. CRC Critical Reviews in Aquatic Science 1:243-280.
Bouillon S, R.M. Connolly, S.Y. Lee. 2008. Organic matter exchange and cycling in mangrove ecosystems: Recent insights from stable isotope studies. Journal of Sea Research 59; 44–58
Bradley B. Walters, Patrik Ro¨nnba¨ck, John M. Kovacs, Beatrice Crona, Syed Ainul Hussain, Ruchi Badola, Jurgenne H. Primavera, Edward Barbier,and Farid Dahdouh-Guebas. 2008. Review Ethnobiology, socio-economics and management of mangrove forests: A review. Aquatic Botany 89: 220–236.
BPS Kota Jayapura. 2007. Kota Jayapura Dalam Angka
Chong V.C, Sasekumar A, Leh Muc, D’Cruz R., 1990. The Fish and Prawn Communities of a Malaysian Coasta Mangrove Sstem, with Comparisons to Adject Mud Flats and Inshore Waters. Estuarine Coastal and Shelf Science 31: 703-722.
Christensen S.M, Peter Tarp, Carsten Nico Hjorts. 2008. Mangrove forest management planning in coastal buffer and conservation zones, Vietnam: A multimethodological approach incorporating multiple stakeholders. Ocean & Coastal Management 51: 712–726.
Couchman D, Chris Lupton, John Beumer, John Mcdougall and Alan Barton Tanpa tahun. Benefits Of Urban Mangrove Management Strategies For Riverine Foreshorei Diakses tanggal 04 Januari 2010.
Dahuri R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Penerbit PT. Gramedia Pusataka Utama. Jakarta
Departemen Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua. 2007. Rencana Strategis Pengelolaan Mangrove Kota Jayapura. Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua. Laporan
Andargoli L, Per Dale, N. Sipe, dan J. Chaseling. 2009. Mangrove expansion and rainfall patterns in Moreton Bay, Southeast Queensland, Australia. Estuarine, Coastal and Shelf Science 85: 292–298.
Flemming M, Lin G, Sernberg L.SL., 1990. Influence of Mangrove Detritus in an Estuarine Ecosistem. Bulletin of Marine Science 47:663-669.
Gilman E.L, Joanna Ellison, Norman C. Duke, and Colin Field., 2008. Review. Threats to mangroves from climate change and adaptation options: A review. Aquatic Botany 89: 237–250
Gunarto., 2004. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. Jurnal Litbang Pertanian, 23(1), 2004
Hatcher B.G, Johannes R.E, Robertson A.I., 1989. Review of Research Relevant to the Conservation of Shallow Tropical Marine Ecosystem. Oceanografy and Marine Biology. Annual Review 27:337-414.
Inoue, Y., O. Hadiyati, H.M. Afwan Affendi, K. R. Sudarma, and I.N. Budiana. 1999. Sustainable Management Models for Mangrove Forest. Japan International Cooperation Agency, hlm. 46.
Lee S.Y., 1995. Mangrove Outwelling: a Review. Hydribiologia 295:203-212.
Kairo J.G, F Dahdouh-Guebas, J Bosire and N Koedam., 2001. Restoration and management of mangrove systems — a lesson for and from the East African region. South African Journal of Botany, 67: 383–389
Marguiller S, van der Velde G, Dehairs F, Hemminga M.A, Rajagopal S. 1997. Trophic Relationships in an Interlinked Mangrove-Seagrass Ecosystem as Traced by δ13C and δ15N. Marine Ecology Progress Series 151:115-121.
Marshall N., 1994. Mangrove Conservation in Relation to Overall Environmental Considerations. Hydrobiologia 285:303-309.
Mustafa, M. dan H. Sunusi. 1981. Laporan survei pembinaan dan pemanfaatan hutan bakau di Kabupaten Luwu, Propinsi Sulawesi Selatan. Kerja Sama Universitas Hasanuddin dengan Direktorat Jenderal Perikanan. Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang.
Kulkarni NA. 2009. Mangroves Of Maharashtra: A Fast Disappearing Asset. Current Science, Vol. 96, No. 7, 10 April 2009.
Pape A, Agnes Muthumbi B, Chomba Peter Kamanu C, Ann Vanreusel. 2008. Size-Dependent Distribution And Feeding Habits Of Terebralia Palustris in Mangrove Habitats Of Gazi Bay, Kenya. Estuarine, Coastal And Shelf Science 76; 797-808.
Paulangan.Y.P., 2007. Analisis Kondisi Mangrove Di Taman Wisata Teluk Youtefa Kota Jayapura Provinsi Papua. Jurnal Sains Mipa Universitas Cenderawasih. Jayapura.
Pratiwi R. 2009. Komposisi Keberadaan Krustasea Di Mangrove Delta Mahakam Kalimantan Timur. Makara, Sains, Vol. 13, No. 1: 65-76.
Primavera J.H, Special Issue. The Values Of Wetlands: Landscape And Institutional Perspectives Development and conservation of Philippine mangroves:institutional issues. Ecological Economics 35: 91–106
Rumbekwan E. 2009. Perlindungan Sumberdaya Larva Ikan Bandeng (Chanos chanos, Froskal) untuk Pengelolaaan Perikanan Berkelanjutan di Pessir Kota Jayapura, Provinsi Papua. Tesis. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.
Sesakumar, A. 1984. Secondary productivity in mangrove forests. Productivity of the Mangrove Ecosystem, Management Implication. p. 20–24.
Sukristijono Sukardjo., 2002. Integrated Coastal Zone Management (ICZM) in Indonesia: A View from a Mangrove Ecologist. Southeast Asian Studies, Vol. 40, No. 2 .
Thu PM and Jacques Populus. 2007. Status and changes of mangrove forest in Mekong Delta:Case study in Tra Vinh, Vietnam. Estuarine, Coastal and Shelf Science 71: 98-109
Walters B.B, Patrik Ronnback, John M. Kovacs, Beatrice Crona, Syed Ainul Hussain, Ruchi Badola, Jurgenne H. Primavera, Edward Barbier, Farid Dahdouh-Guebas., 2008. Review. Ethnobiology, socio-economics and management of mangrove forests. A review. Aquatic Botany 89: 220–236
Watanabe, WO. 1986. Larvae and Larva Culture. Oceanic Institute. Hawaii in. C.Sheng Lee and MS. Gordon and Watanabe WO. 1986. Aquaculture of Milkfish (Chanos chanos F) State of Art: 117-143.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar